Kolektif Formobeat Taiwan, Island Futurism Rilis Album Kedua
local

Kolektif Formobeat Taiwan, Island Futurism Rilis Album Kedua

Kolektif Formobeat asal Taiwan, Island Futurism, merilis album kedua mereka yang bertajuk “Patri-Ark 海長老pada awal Mei 2023 ini. Ada tujuh lagu yang sudah bisa didengar di sejumlah Digital Streaming Platform. Kolektif musik dengan 11 personel ini mencampurkan banyak pengaruh dalam musiknya. Itu mencakup Afrobeat, jazz, funk, psikadelik, hingga dub/reggae yang dikombinasikan dengan elemen-elemen lokal Taiwan baik itu dari tradisi Hokkien maupun orang asli Taiwan.

Meski lagu-lagunya cenderung instrumentalia tanpa syair, Island Futurism membangun sebuah narasi yang cukup kuat dari keseluruhan album ini. Itu semua terhubung dari lagu pertama sampai terakhir, pemilihan judul, keberagaman instrumen, hingga artwork.

Island Futurism menyebut keseluruhan album ini menggambarkan kepercayaan orang Taiwan atas dibangunnya sebuah peradaban. Itu dimulai ketika sebuah batu raksasa jatuh dari langit dan bencana banjir besar yang merupakan titik balik antara dunia mitologis kuno dengan dunia sejarah saat ini.  

Album dibuka dengan kisah jatuhnya sebuah batu besar dari langit dan mitos banjir yang disampaikan dalam trek “Giant Stone Falling from The Sky”. Kisah ini dipercaya mewakili titik balik antara dunia mitologis kuno dan dunia sejarah saat ini yang dianggap cocok sebagai gerbang narasi dari album Patri-Ark. Di trek kedua, disusul oleh “Sunbird” terinspirasi oleh burung Siliq di Gunung Sylvania, mengisahkan pasangan pertama di dunia setelah seekor burung dewa membuka batu raksasa. Adapun lagu utama “Patri-Ark”, yang justru disimpan sebagai trek ketujuh, merupakan penghormatan kepada dewa laut “Hái-Ang” (penatua laut). Ini mewakili dewa laut dan budaya pemujaan paus raksasa di Taiwan.

Album ini menyertakan dua interpretasi modern dari melodi tradisional: “Spring Around” dan “Water-Moon Ascending to the Tower.” “Spring Around” merayakan musim semi selama peradaban pertanian dan menggabungkan ritme dasar yang mengacu pada referensi Afrika. Sementara “Water-Moon Ascending to the Tower” menggunakan “delapan nada” – instrumen skala kuno yang umum digunakan di seluruh Asia Timur untuk menciptakan suasana perjalanan waktu yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Proses rekaman album ini dimulai sejak Januari 2023 di Yuchen Studio, salah satu studio rekaman ternama di Taiwan yang juga sering menggelar sebuah Live Sessions bertajuk “CINEMAPHONIC”. Island Futurism melibatkan produser dan mixing engineer Ta-Wei Wong, juga Chen-Yen Wu sebagai recording engineer. Untuk teknisi drum mereka percayakan pada Lijon Hsu. Adapun proses mastering dilakukan di Metropolis Studio, Amerika Serikat oleh Mike Hillier, seorang mastering engineer kelas dunia yang pernah bekerja sama dengan Bonobo, Kasabian, Maribou State, The Streets, hingga Genesis.

Penggarapan sampul dilakukan oleh ilustrator kenamaan Taiwan, Khu Tsing-Bûn yang kemudian dirancang tata letaknya oleh Han Wu. Keseluruhan sampul dibuat lebih otentik dengan kearifan lokal kaligrafi Taiwan yang digarap oleh Yo-Shin Lai.

Dengan racikan musik yang beragam, Island Futurism dipastikan akan menjadi satu unit yang tidak hanya bisa diterima oleh Taiwan, tetapi juga Asia bahkan dunia.

Tentang Island Futurism

Island Futurism adalah kolektif bermusik yang kini diisi oleh 11 personel. Kolektif yang menamakan musiknya sebagai Formobeat atau Formosa (sebutan lain untuk pulau Taiwan) beat ini, memulai perjalanan musikalnya di Taipei, Taiwan pada 2018 lalu.

Island Futurism digagas oleh DJ @llenblow, seorang veteran di kancah dub/reggae Taiwan yang sebelumnya menggagas sejumlah proyek musik seperti Hang In The Air & Taimaica Soundsystem. DJ @llenblow sejak awal sampai saat ini menjadi bassis untuk Island Futurism.

Kini, Island Futurism diperkuat oleh How Chen pada guitar dan Hong-Yu Chen (Tenor Saxophone & Dizi) serta Grace Lu (Trumpet) di posisi brass section. Pada drum dan perkusi, masing-masing ada Guan-Zheng Wu (drums), Danny Tsai (jimbe), Wahcee (drum pad), Eileen Tu (woodpecker), dan shekere yang dimainkan oleh Acknos Ko & Diana Chen. Semua instrumen kemudian diolah oleh A.P.R.A yang berada di posisi dub control. Formasi ini membuat “Patri-Ark” menjadi lebih bernuansa sci-fi jika dibanding dengan debut mereka “Aislander” (2020).

Minikutu Writer

NEXT EVENT

00
Days
:
00
Hours
:
00
Minutes
:
00
Seconds

Got a Questions?

Find me on Social Media or Contact me and I will get back to you as soon as possible.

Another Post

SKRNG 4 copy

04 February 24

ARTWORK Tiara Effendy - Mencoba Pergi

03 July 23

IMG-20211022-WA0026

22 October 21

Related Post

RM BERMUARA-3
local
03 / 05 / 24
Bermuara, Labuhan Kisah Cinta dari Rizky Febian dan Mahalini
Artwork - Tak Berbentuk Lagi
local
28 / 04 / 23
Meiska Berbicara Tentang Sudut Orang Ketiga Di Singel Tebaru “ Tak Berbentuk Lagi”
Prinsa Mandagie - #01
local
28 / 05 / 23
Prinsa Mandagie Mengajak Kaum Patah Hati Untuk Bangkit Kembali Melalui EP Percaya
Daramaula - IMAGE #02
local
29 / 03 / 22
Donne Maula & Sheila Dara ( Daramaula ) Ingatkan Kita Untuk Sejenak Beristirahat Lewat Single ‘MALAS’
Processed with VSCO with v2 preset
local
13 / 10 / 22
Isolasi 7 Tahun Grisness Culture yang Akan Segera Berakhir
Menangkan-1024x640
local
30 / 03 / 17
Lagu Baru Untuk Album Baru Hoolahoop
Artwork - Kalah
local
26 / 10 / 23
Fadil Jaidi ungkap kisah yang relate ke banyak orang di single ‘Kalah’
[COVER] FOR APRIL PART 1 - AUL PERSNELING
local
05 / 07 / 20
For April Part I yang ditulis Aul Persneling berdasarkan pengalaman pribadi

About Me

Minikutu is the music news network on the planet that has been around since 2015

Another Post

artwork BTOS X RTG - IRONI

18 May 20

music-sleep-neurosciencenews-public

14 July 21

Juicy Luicy - HAHAHA (3)

25 January 24

My Instagram

Create With ♥ By Jedi Iriyanto | Copyright ©2022 Minikutumedia.com

This website uses cookies to ensure you get the best new experience on my website. Learn more