Menelisik Akar Musik Goodnight Electric di Lagu “Tamat”
ministory

Menelisik Akar Musik Goodnight Electric di Lagu “Tamat”

minikutumedia.com – Ngomongin soal Goodnight Electric rasanya banyak diantara kita yang langsung mengasumsikannya dengan menggaris bawahi kata elektronik itu sendiri. Dalam hal ini mengerucut pada musik yang mereka buat.

Awal kemunculan band ini, Henry Foundation aka Batman, Bondi, dan Oomleo. Tiga orang punggawa dibalik kemudi lagu-lagu Goodnight Electric mengibaratkan mereka sebagai robot yang bermusik.

Kaku, datar, dan nyaris tanpa nyawa, meski pada awal kemunculannya band ini masih menyisakan sedikit tanya lewat lagu “Am I Robot”. Secara visual, musik, hingga persona yang mereka tampilkan, Goodnight Electric memang terkesan seperti robot pada awal kemunculannya.

Sampai akhirnya mereka kembali dengan ‘ruh’ yang berbeda dan menanggalkan persona ‘robotnya’. Meski beberapa lagu masih ditingkahi suara vokal rendah, lengkap dengan permainan synthesizer nya. Namun, lewat lagu “Tamat” mereka memberi warna baru dengan mempersilakan Priscilla Jamail mengambil kemudi dibalik microphone.

Bukan lantas melupakan Batman sebagai vokalis dan orang pertama di band ini, namun kehadiran Priscilla jadi nyawa tersendiri bagi Goodnight Electric.

Dari departemen musik, ada Vincent Rompies dengan kepekaan rasa yang dia punya mampu diaplikasikan dengan baik lewat bassline yang dia mainkan. Satu hal yang cukup mencuri perhatian di lagu “Tamat” ini. Lagu yang terkesan murung ini punya padanan musik yang gelap dan mengawang typical musik shoegaze yang ternyata jadi kiblat Batman selama ini.

Menguak kenyataan jika sang frontman adalah penggemar musik indies, mungkin banyak diantara kita yang terkecoh kalau untuk urusan musik elektronik sebenarnya hanya eksplorasi berkesenian aja buat Batman, maupun Goodnight Electric. Karena sejatinya akar band ini adalah pop (lazim disebut musik indies atau indie pop pada era 90an di Indonesia).

Mungkin musik elektronik hanyalah kamuflase bagi Goodnight Electric, mungkin juga hanya persinggahan, karena ketika kali ini mereka tampil lebih muram dan mengawang dengan musik shoegaze nya, band ini kemudian justru terlihat lebih hidup dan dekat dengan pendengarnya.

Terlebih dengan penggunaan lirik bahasa Indonesia, yang juga merupakan eksplorasi musikal yang mereka pakai dalam karya-karya barunya. Kali ini mereka terasa lebih terasa ‘bernyanyi’ dan ‘bermusik’, dibanding dengan karya-karya terdahulunya yang robotic itu tadi.

Jangan lupakan juga peran gitaris baru mereka, Andi Sabarudin aka Andi Hans, yang juga memberikan nyawa tersendiri di karya-karya terbaru Goodnight Electric. Bersama Vincent dan Priscilla Jamail ketiga merupakan personil baru rasa lama, karena sejatinya masing-masing dari mereka pernah menorehkan catatan menarik bersama band terdahulunya.

Priscilla Jamail pernah membuat Monday Math Class bersama Ario (vokalis The Adams), Vincent Rompies pernah begitu bersinar dengan band Club 80s, hingga Andi Hans, sang gitaris bagi banyak band ‘indies’ di ibu kota, dari C’mon Lennon hingga Seaside.

Menarik benang merah dari ketiga personil baru ini, maka kita akan terhubung dengan satu kata, yakni pop (atau mengerucut pada istilah indie pop), mengingat band-band yang melibatkan tiga nama ini cukup kental dengan unsur pop pada musiknya. Vincent bahkan pernah cukup lama berada dalam sebuah band yang khusus mengcover lagu-lagu Blur bernama Parklife. Tidak heran jika pada outputnya kini Goodnight Electric cukup kental dengan irama dari musik pop.

Minikutu Writer

NEXT EVENT

00
Days
:
00
Hours
:
00
Minutes
:
00
Seconds

Got a Questions?

Find me on Social Media or Contact me and I will get back to you as soon as possible.

Another Post

OGA3BA0

31 July 20

dwp2016-860x450

04 November 16

fameonfire_77196573_183605412786673_2352248561504470399_n

13 June 20

Related Post

minikutu-dengerin-musik-metal0ada-manfaatnya
ministory
05 / 08 / 21
Ternyata dengerin musik metal ada manfaatnya loh
ministory
26 / 12 / 15
Payung Teduh band alternatif asal Jakarta
minikutumedia.com – Payung Teduh merupakan band alternatif Indonesia beraliran fusi antara Folk, Keroncong dan Jazz. Band ini lahir dari dua orang sahabat yang berprofesi sebagai pemusik di Teater Pagupon yang senang nongkrong bersama di kantin Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, mereka adalah Mohammad Istiqamah Djamad (Is) dan Comi Aziz Kariko yang senang bermain...
una-2
ministory
26 / 12 / 15
una dairy : guru yang tidak pernah lelah berkarya
derby-romero-gelora-asmara
ministory
11 / 02 / 22
Lagu Remake yang Lebih Terkenal dari Penyanyi Aslinya
minikutu_major_raisa-300x169
ministory
26 / 12 / 15
Raisa, dari vokalis band menjadi penyanyi solo
blogger-image-1929168214
ministory
20 / 01 / 22
Sekilas Sejarah Kaitan Zine dan Musik
ministory
22 / 01 / 16
Just For Joy : Pecahnya Visi Misi yang Mengakibatkan Perombakan Formasi
Minikutumedia.com – Band Pop Punk yang terbentuk pertengahan tahun 2013 ini berawal dari keisengan sang frontman (Arman) dengan personil lainnya yang merupakan bagian dari Komunitas Blink Corps Indonesia. Just For Joy memiliki arti “hanya untuk bersenang-senang” karena memang niat awal mereka bermain musik hanya untuk mengisi waktu senggang dan menghabiskan...
IMG_20170306_085305_461
ministory
25 / 03 / 17
REVENGE THE PAST

About Me

Minikutu is the music news network on the planet that has been around since 2015

Another Post

1. Album Artwork

11 May 24

CIrp-ahUsAA-ggT

29 March 17

driveinkonser_98063206_2685576478355490_8198344377097408685_n

22 May 20

My Instagram

Create With ♥ By Jedi Iriyanto | Copyright ©2022 Minikutumedia.com

This website uses cookies to ensure you get the best new experience on my website. Learn more